“Cinta.
(baca: cinta dengan titik)”
Karya
: Bernard Batubara
![]() |
Disusun
oleh :
Intan Triyani Dewi F1G013005
JURUSAN BAHASA
DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI
DAN PENDIDIKAN TINGGI
2015
PENDAHULUAN
Novel karya Bernard Batubara yang berjudul “Cinta.” (baca: Cinta dengan titik) ini
ditulis oleh pengarang selama kurang lebih 10 bulan. Novel ini terinspirasi
dari cerita teman perempuan pengarang yang pernah mencurahkan isi hati tentang
kehidupan cinta nya. Awalnya novel yang ia tulis diberi judul “Love Is Right”
namun setelah mengalami beberapa revisi diganti dengan judul “Cinta.” . Novel garapannya ini pernah
membuatnya syok karena mendapat revisi banyak sekali dari editor, kurang lebih
ada 200 poin catatan revisi yang terdapat pada draft pertamanya.
Awalnya Bernard memperkirakan bahwa novel garapannya
ini akan bisa terbit pada bulan April 2013 namun perkiraan nya salah karena
novelnya mendapat banyak catatan revisi sehingga baru bisa di terbitkan pada
Agustus 2013.
Novel ini bercerita tentang perselingkuhan dari mata
si selingkuhan. Pengarang bertujuan untuk merubah stereotype orang-orang yang
menganggap seorang selingkuhan adalah satu-satunya orang yang harus disalahkan.
Pengarang ingin membuka mata mereka lebar-lebar bahwa sebuah
masalah harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Dan untuk mengajak mereka
agar tidak buru-buru menghakimi seseorang.
Novel ini sendiri
merupakan dua
tantangan yang
ingin pengarang tujukan
untuk diri saya sendiri. Pertama, tantangan untuk menulis naskah novel yang
lebih tebal dari yang sebelumnya. Kedua, tantangan untuk menulis dari sudut
pandang perempuan (tokoh utama di dalam “Cinta.”adalah seorang perempuan), yang belum pernah pengarang lakukan.
Dari uraian diatas unsur intrinsik
apa saja yang terdapat dalam novel tersebut?
PEMBAHASAN
1.
Tema
Tema adalah sesuatu yang
menjadi pikiran atau sesuatu yang menjadi pokok persoalan yang diungkap dalam
sebuah karya sastra, yang di dalamnya terbayang pandangan hidup atau cita
pengarang.
Tema dalam novel “Cinta.” (baca: cinta dengan titik) ini
adalah perselingkuhan dalam kehidupan percintaan dimana pengarang mengambil
sudut pandang perselingkuhan dari orang yang menjadi selingkuhan.
2.
Amanat
Amanat adalah pemecahan masalah atau pesan moral yang
ingin disampaikan pengarang untuk pembaca karyanya tersebut.
Amanat yang terdapat
dalam novel “Cinta.” ini adalah
cinta yang baik adalah ketika kita tidak merebut kebahagiaan orang lain dan
mencari kebahagiaan kita sendiri, sebuah masalah harus dilihat dari berbagai sudut pandang, dan tidak buru-buru menghakimi seseorang menjadi orang yang harus
dipersalahkan.
3.
Sudut Pandang
Sudut pandang adalah cara memandang
penulis dalam menempatkan dirinya pada posisi tertentu dalam cerita novel
tersebut. dalam sebuah novel, sudut pandang terbagi menjadi dua, yaitu Sudut
pandang orang pertama dan Sudut pandang orang ketiga.
Sudut pandang yang terdapat dalam novel ini
adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu. Dapat dibuktikan dengan kutipan
di bawah ini.
“Nessa mengeluarkan sebuah bloknot dari
dalam tas ransel nya dan sebuah pulpen dari dalam kantong kecil di tasnya. Ia
membuka bloknot tersebut, tampak berpikir sejenak, kemudian menulis beberapa
kalimat.”
4.
Plot (alur cerita)
Plot/ alur adalah rangkaian peristiwa yang
disajikan dengan urutan tertentu, dan urutan tersebut membangun tulang punggung
cerita (Sudjiman, 1991).
Plot/ alur yang digunakan dalam novel ini
adalah alur maju mundur. Karena pada prolog pengarang menuliskan langsung
kebagian tengah cerita, bukan secara berurutan awal perkenalan tokoh,
konflik-konflik lalu penyelesaian nya yang menjadi akhir dari konflik tersebut.
Pengarang membuat flashback di dalam bagian novelnya.
5.
Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi
sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita (Aminuddin, 1995:79).
Sementara itu Zulfahnur (1996:29) mengatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan
yang mengalami peristiwa atau lakuan dalam cerita.
Sedangkan penokohan adalah tampilan seorang tokoh dengan rekaan
pengarang semata dapat berupa tabiat, atau sifat kepribadian (Sudjiman,
1988:16).
Ø Nessa Eswari Moe (Nessa)
1. Cuek
Sebelah sudut bibir pria itu terangkat melihat penampilan Nessa yang
tampak cuek.
2. Curigaan
Nessa memasang wajah curiga.
3. Menyukai Senja
4. Pelupa
Nessa tidak mengabari Demas. Lupa. Penyakit lama Nessa.
5. Tidak mudah di taklukan
Tidak ada yang mudah untuk membuat Nessa jatuh hati selain penulis yang
cerdas.
6. Menyukai puisi
Di puisi, ia menjatuhkan hatinhya kepada seorang lelaki bernama Pablo
Neruda.
7. Suka menulis
Nessa mengeluarkan sebuah bloknot dari dalam tas ransel nya dan sebuah
pulpen dari dalam kantong kecil di tasnya. Ia membuka bloknot tersebut, tampak
berpikir sejenak, kemudian menulis beberapa kalimat.
8. Humoris
“Kamu terlalu serius, ah. Aku Cuma bercanda,”
9. Perhatian
“Ayah sendirian di rumah, aku harus langsung pulang.”
10. Cepat menyerah
“Aku ingin kita berhenti di sini, berhenti seperti ini.”
Ø Ademas Kusuma Waluyo (Demas)
1. Penyayang
“Aku akan jemput. Oke, hati-hati, Bu. Aku saying ibu.”
2. Baik hati
“kalau kamu mau kesana, cari saja aku. Aku akan membantumu,”
3. Ramah
“Hallo, Nessa, silakan masuk.”
4. Tepat janji
“Maaf, ada rapat redaksi. Tapi, aku tepati janjiku kan. Pukul empat
sore.”
Ø Ayah
1. Serius
Nessa sama sekali tidak mengira bahwa pernyataan Ayah untuk menjodohkan
dirinya betul-betul di laksanakan dengan serius.
2. Humoris
Ayahnya tidak pernah gagal untuk membuat ia tertawa.
3. Peduli/perhatian
“Ayah kok khawatir tiap malam minggu nggak pernah ada yang ngapelin kamu
ke rumah.”
Ø Endru Garnusa Rivai
1. Suka Kebebasan
2. Playboy
“Bagaimana hubungannya nanti dengan Astrid si model foto itu, atau Sofi
si sekretaris bosnya di kantor itu, atau Elna Staf Marcomm Klien yang sedang
dekat dengannya itu.”
3. Bisa di andalkan
Endru termasuk salah satu orang yang diandalkan di kantornya.
4. Penyayang
Namun, ia tidak bisa menyanggah permintaan ibunya. Untuk satu dan lain
hal. Selain karena ia memang menyayangi ibunya, juga karena ibunyalah
satu-satunya yang ia miliki saat ini.
5. Tidak menyukai perjodohan
Endru merasa ia sedang berada di puncak kejayaannya dan menurutnya
rencana perjodohan ini hanya akan mengganggu konsentrasinya bekerja.
6. Emosional
“Jadi, kamu dari mana saja?“ Endru mengulang pertanyaanya. Kali ini
dengan nada yang lebih di tekan.
Ø Bian
1. Suka Mengeluh
“Aku tidak tahan disini, panasnya ampun,deh.”
2. Suka Menebak-nebak
“Pasti begitu sampai di yogya, dia bertanya soal pacarmu.”
3. Humoris
“Sayang sekali, Endru barang bagus. Kalau saja aku belum punya suami,
sudah aku sambar deh.”
4. Perhatian
“Hah? Kamu mau naik apa pulang puku segini? Lagian, kamu juga baru
sampai.”
5. Emosional
“Apa-apaan ini?!” Bian menghempaskan sebuah amplop cokelat ke atas meja
Nessa.
Ø Ivon
1. Emosional
“Semua gara-gara Nessa? Semua gara-gara---“Ivon mengambil tumpukan foto
di meja, mengacungkannya ke wajah Demas, “---- perempuan ini?”
2. Pendendam
“Aku ingin terus terang, setelah melihat foto-foto kamu dengan perempuan
itu, aku tidak bisa berpikir sehat sehat dan melarikan diri ke orang lain.”
6.
Latar
Latar atau setting adalah tempat dan waktu
terjadinya peristiwa dalam cerita, dan lingkungan sosial.
Setting atau
latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan
waktu, ruang, dan situasi terjadinya peristiwa dalam cerita. Latar dapat dibedakan
ke dalam dua unsur pokok:
1. Latar
tempat, mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan
dalam sebuah novel.
2. Latar waktu, berhubungan dengan
masalah ‘kapan’ terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam sebuah
novel.
a. Berikut ini adalah latar
tempat yang terdapat dalam novel “Cinta.”.
Ø Pontianak
Pontianak tidak sepanas biasanya (hal.5)
Ø Taksi
nessa berada di dalam sebuah taksi yang sopirnya lebih mirip kontestan idol gagal ketimbang seorang sopir. (hal.5)
nessa berada di dalam sebuah taksi yang sopirnya lebih mirip kontestan idol gagal ketimbang seorang sopir. (hal.5)
Ø Bandara Supadio
“perasaan, Bandara Supadio tidak terlalu jauh, kenapa rasanya lama sekali, sih.” (hal.6)
“perasaan, Bandara Supadio tidak terlalu jauh, kenapa rasanya lama sekali, sih.” (hal.6)
Ø Lampu merah
taksi berhenti di depan lampu merah. (hal.7)
taksi berhenti di depan lampu merah. (hal.7)
Ø Bingke Al-Fajar
“disebelahnya, terpancang plang bertuliskan “Bingke Al-Fajar”. (hal.8)
“disebelahnya, terpancang plang bertuliskan “Bingke Al-Fajar”. (hal.8)
Ø Di dalam Pesawat
Nessa menghempaskan tubuhnya di kursi 12 A. (hal.12)
Nessa menghempaskan tubuhnya di kursi 12 A. (hal.12)
Ø Di Dalam Mobil
Ayah Nessa menyetir mobil dengan khidmat, menjemput Nessa dari Bandara.(hal.23)
Ayah Nessa menyetir mobil dengan khidmat, menjemput Nessa dari Bandara.(hal.23)
Ø Kamar Nessa
Nessa mondar-mandir di kamarnya.(hal.25)
Nessa mondar-mandir di kamarnya.(hal.25)
Ø Artemy,Italian Gelato & Ice Cream
Nessa duduk di bagian luar Artemy,Italian Gelato & Ice Cream, sebuah
kafe kecil yang menyajikan-sesuai namanya gelato dan es krim, juga beragam
varianolahan es krim lainnya. (hal.55)
Ø Kedai donat
Nessa melihat Demas di sebuah kedai donat, ketika ia sedang menyelesaikan
paragraph terakhir dari artikel yang ia kerjakan untuk sebuah website info
perjalanan.(hal.68)
Ø Kereta
“Apa Prameks selalu penuh sesak seperti ini?” (hal.76)
Ø Stasiun Solo Balapan
Orang-orang berjubel turun dari Prameks yang tiba di Stasiun Solo Balapan,
pukul Sembilan malam. (hal.80)
Ø Ngarsopuro
“Ini namanya Ngarsopuro, Taman kota di solo.” (hal.84)
Ø Plaza Ambarrukmo
Ia sedang makan siang di sebuah restoran di dalam Plaza
Ambarrukmo,bersama Vina. (hal.204)
Ø Stasiun Tugu Yogyakarta
Pukul tujuh kurang sepuluh, Nessa sudah
berada di Stasiun Tugu. (Hal.197)
Ø Stasiun Gubeng Surabaya
Nessa melangkahkan kakinya turun dari gerbong Sancaka Pagi dengan kepala
terasa berat. (hal.210)
Ø Kafe koboi Lido
Alih-alih pergi ke acara yang Demas bilang akan mereka liput, Demas
malah membawa Nessa ke sebuah kafe koboi bernama Lido. (hal.211)
Ø Teras rumah
Pria itu belum beranjak dari kursinya. Nessa masih berdiri, tiga meter
di depannya. Terpaku melihat Endru ada di teras rumahnya pukul tiga dinihari.
(hal.216)
Ø Bioskop
Kursi bioskop cukup banyak dipenuhi penonton. (hal.228)
Ø Kafe-roti
Sudah hamper empat jam ia berada di kafe-roti di Jalan A.M Sangaji itu
dan otaknya masih belum bisa di ajak bekerja. (hal.255)
b.
Berikut ini merupakan latar waktu yang terdapat dalam novel “Cinta.”.
Ø Senja
Senja merambat di pinggir kacamata Nessa, sedikit menyilaukan
pandangannya yang sejak tadi berusaha menghindar dari tatapan lelaki di
depannya. (hal.1)
Ø Dinihari
Terpaku melihat Endru ada di teras rumahnya pukul tiga dinihari. (hal.216)
Ø Malam hari
Orang-orang berjubel turun dari Prameks yang tiba di Stasiun Solo
Balapan, pukul Sembilan malam. (hal.80)
Ø Sore hari
“Maaf, ada rapat redaksi. Tapi, aku tepati janjiku kan. Pukul empat
sore.” (hal.58)
Ø Siang hari
Ia sedang makan siang di sebuah restoran di dalam Plaza
Ambarrukmo,bersama Vina. (hal.204)
7.
Bahasa dan Gaya Bahasa
Bahasa merupakan sarana atau alat yang diolah untuk
menjadi sebuah karya yang bernilai lebih dari bahan itu sendiri. Bahasa dalam
sastra mengemban fungsi utamanya: fungsi komunikatif (Nurgiyantoro, 1993:1).
Gaya bahasa
adalah cara pengarang mengungkapkan ceritanya melalui bahasa yang digunakan.
Setiap pengarang memiliki gaya masing-masing.
Bahasa yang digunakan dalam novel ini adalah Bahasa Indonesia namun ada beberapa
kutipan yang menggunakan Bahasa Inggris.
Pengarang menggunakan gaya Bahasa:
·
Metafora
“Lalu jika yang mereka sebut cinta itu malah
mengubah kosmos menjadi chaos, untuk apa ia ada? (hal 163)
·
Personifikasi
Luka-luka yang berambisi
menjadi raja. Raja di dalam hati yang rusak. Hati yang rusak karena si pemilik
hati terlalu naif dan berharap.(156)
SINOPSIS NOVEL
Sinopsis
novel adalah ringkasan cerita novel. Ringkasan novel adalah bentuk pemendekan
dari sebuah novel dengan tetap memperhatikan unsur-unsur intrinsik novel
tersebut. membuat Sinopsis merupakan suatu cara
yang efektif untuk menyajikan karangan (novel) yang panjang dalam bentuk yang
singkat. Dalam sinopsis, keindahan gaya bahasa, ilustrasi, dan
penjelasan-penjelasan dihilangkan, tetapi tetap mempertahankan isi dan gagasan umum pegarangnya. Sinopsis biasanya
dibatasi oleh jumlah halaman, misalnya dua atau tiga halaman, seperlima atau
sepersepuluh dari panjang karangan asli.
Sinopsis Cinta. (baca:
cinta dengan titik) sebagai berikut.
"Mengapa cinta membuatku
mencintaimu, ketika pada saat yang sama kau mencintai orang yang bukan aku?
Ketika telah membuka hati, aku pun harus
bersiap kehilangan lagi. Apakah setelah cinta memang harus selalu ada air mata
dan luka hati?
Kalau begitu, bagaimana jika kita
bicarakan satu hal saja. Cinta. Tanpa ada yang lain setelahnya. Kita
lihat ke mana arahnya bermuara."
Ini adalah kisah tentang Nessa seorang gadis berkacamata yang hobi
menulis. Ia adalah anak tunggal, ibunya pergi meninggalkan ia dan ayahnya
karena mencintai pria lain dalam arti ibunya selingkuh dengan pria lain. Nessa
menjadi sangat membenci ibunya karena beliau tega meninggalkan ia dan ayahnya.
Mungkin ibunya kesepian karena ayah Nessa yang sibuk dengan pekerjaannya dan
hanya punya sedikit waktu luang sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga yang
ditinggal anak dan suaminya yang memiliki kesibukan masing-masing.
Kisah ini berawal dari Nessa yang saat itu menghadiri pernikahan sahabatnya yang bernama
Bian di kota Pontianak. Setelah menyaksikan pernikahan sahabatnya itu Nessa
memutuskan untuk langsung pulang ke Yogyakarta tempat dimana ia dan ayahnya
tinggal. Di dalam pesawat ia bertemu dengan seorang pria yang awalnya membuat
Nessa enggan untuk menanggapi karamahannya. Laki-laki itu bernama Ademas Kusuma
Waluyo atau yang biasa di panggil Demas. Mereka pun berkenalah. Demas mulai
tertarik kepada Nessa saat ia melihat
Nessa yang sedang asik membaca buku puisi karya orang yang cukup terkenal.
Demas berfikir ternyata masih ada gadis yang menyukai puisi serta ia menyimpulkan
bahwa Nessa itu cuek dan berbeda dengan perempuan yang lain.
Sesampainya di Yogya ia dijemput oleh ayahnya di bandara dan didalam mobil mereka bersenda gurau dan
ayahnya sempat bertanya soal pacar Nessa, dan ayahnya juga menyetuk perihal
perjodohan. Awalnya Nessa piker ayahnya hanya sedang bercanda namun ternyata
ayahnya itu serius ingin menjodohkan Nessa dengan Endru yang merupakan anak
dari teman wanita ayahnya.
Suatu saat Nessa sedang mengerjakan pekerjaan copy untuk klien nya di
sebuah kafe, disana ia bertemu dengan Demas lalu berbincang sedikit. Sejak saat
itu Demas dan Nessa menjadi sering bertemu, hingga akhirnya mereka saling jatuh
cinta. Namun ternyata Demas sudah mempunyai seorang tunangan yang bernama Ivon.
Dia adalah pramugari di salah satu maskapai penerbangan. Perasaan Demas pada
Ivon mulai luntur semenjak Ivon di terima sebagai pramugari, waktu untuk
bertemu menjadi sangat sulit karena jadwal bekerja Ivon.
Perasaan Nessa dan Demas makin kuat sehingga mereka memutuskan untuk
menjalin hubungan. Demas berjanji pada Nessa suatu saat ia akan menjelaskan
pada Ivon tentang perasaannya dan tentang Nessa jika waktunya tepat. Dia harus
meyakinkan keluarganya dulu dan menjaga perasaan keluarga Ivon agar tidak sakit
hati dengan keputusannya.
Hingga suatu saat Nessa berkata :
“ Aku ingin kita berhenti disini,berhenti seperti ini.
Maaf aku tidak bisa lagi begini. Kamu tidak perlu menyelesaikan semua.
Karena saat ini, semua sudah selesai.”
Apakah Demas menerima keputusan Nessa itu? Apakah Demas benar akan
memutuskan pertunangan nya dengan Ivon demi Nessa? Bagaimana dengan Ivon? Apa
yang terjadi dengan hubungan Demas dengan Nessa? Lalu baiamana dengan Endru,
orang yang dijodohkan dengan Nessa?
KESIMPULAN
Novel Cinta.
(baca: cinta dengan titik) ini bercerita tentang perselingkuhan dari mata si
selingkuhan. Pengarang bertujuan untuk merubah stereotype orang-orang yang
menganggap seorang selingkuhan adalah satu-satunya orang yang harus disalahkan.
Pengarang ingin membuka mata mereka lebar-lebar bahwa sebuah
masalah harus dilihat dari berbagai sudut pandang. Dan untuk mengajak mereka
agar tidak buru-buru menghakimi seseorang. cinta yang baik adalah ketika kita tidak
merebut kebahagiaan orang lain dan mencari kebahagiaan kita sendiri
Novel ini sendiri
merupakan dua
tantangan yang
ingin pengarang tujukan
untuk diri saya sendiri. Pertama, tantangan untuk menulis naskah novel yang
lebih tebal dari yang sebelumnya. Kedua, tantangan untuk menulis dari sudut
pandang perempuan (tokoh utama di dalam Cinta. adalah seorang perempuan), yang belum pernah
pengarang lakukan.
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/ diakses 2 januari 2015
di
akses 2 januari 2015
diakse 2 januari 2015
Hadidarsono, Kusneni. Buku Ajar : PENGKAJIAN CERITA REKAAN. PROGRAM SARJANA BAHASA DAN
SASTRA UNSOED.
Batubara, Bernard. 2013. Cinta.( baca cinta dengan titik). Bukune: Jakarta Selatan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar